Tuesday, March 16, 2010

Ramenya Pantai di Jogja pas Libur Lebaran

Pantai2 di Jogja sebangsa Kukup, Krakal, Baron emang gak se-terkenal pantai Parangtritis. Padahal, menurut gw ke3 pantai tsb jauh lebih bagus (Pasir putih, airnya bening, ombak ga nyeremin, ada terumbu karang). Sayang aksesnya susah dan medannya kurang bersahabat. Mungkin karena itu juga kali ya jadinya lebih terkenal parangtritis(selain kerena pantai parangtritis dianggap paling keramat). Tapi biarpun bgtu, kalo lagi lebaran tetep aja Kukup, Krakal, Baron penuh.. makin sore makin gak bisa gerak T.T

Nih gambar2nya :

1. Pantai Parangtritis


2. Kukup kalo masih pagi (jam 9 an)


Dari jembatan

Ada yang nyebarin bunga

Dari gazebo

Di balik Kelapa


3. Pantai Baron/Kukup/Krakal Kalo udah siang (lagi terik2nya)

Air payaunya yang gada arus, jadi pada berenang di sebelah sini

Udah mulai dipenuhi alay yang siap dangdutan=.=


Tapi pas lagi padet2nya gak sempet difoto.. udah abis hp batre T.T

Monday, March 15, 2010

Seninya Kota Jogja^^

Buat yang belom pernah ke Jogja, gw cm mw bagi2 aja ttg seninya kota jogja, yaitu mural(lukisan dinding) :). Yang gw suka dari muralnya Jogja selain artistik tapi juga kocak dan berisi :D

cekidot...

1. Onthel
2. Susu rindu mama (entah maksudnya apa :p)


3. Evolution of healthy lifestyle

4. Peringatan buat yang suka opLas


Daripada coret2 dinding rumah orang kayak gini :


Mending bikin 'coretan' dinding yang lebih berseni kayak mural2 jogja to? :D

sekedar mw mengingat kembali aja sekalian biar ini foto2 gak nganggur doang di rumah :p

Sunday, March 7, 2010

Opini SG "Selamatkan Hutan Untuk Masa Depan"

Indrawati Jiyono
113070355
Stadium Generale 27 Februari 2010

SELAMATKAN HUTAN UNTUK MASA DEPAN

“There are no passengers on Spaceship Earth. We are all crew”
~Marshall McLuhan, 1964~



Greenpeace merupakan organisasi internasional independen yang berorientasi pada penyelamatan lingkungan hidup. Dana yang diperoleh Greenpeace berasal dari donasi individu anggota-anggotanya, bukan dari pemerintah atau badan politik tertentu. Salah satu tujuan Greenpeace yang menjadi fokus kita kali ini, yang dilakukan dengan berkampanye dan melakukan lobby ke pemerintah, yaitu menyelamatkan hutan yang saat ini sudah mulai mengalami deforestasi karena ulah egois tangan-tangan manusia.

Banyak dari kita tidak peduli apa yang terjadi di sekitar kita. Banyak dari kita yang hanya memikirkan keuntungan sendiri. Banyak dari kita yang tidak berpikir jauh ke depan. Mungkin masalah lingkungan hidup bagi sebagian besar orang dianggap sebagai “tanggung jawab bersama” yang dalam artian negatif, “kalau saya tidak melakukan, maka yang lain akan melakukan”. Maka akan terjadilah saling lempar tanggung jawab. Padahal, seperti yang terkandung dalam quotation diatas, “There are no passengers on Spaceship Earth. We are all crew”, menunjukkan bahwa kita semua disini seharusnya ikut andil dalam menjaga bumi ini. Atau kasus lain yang sering terjadi adalah pola berpikir yang cenderung lari dari kenyataan dan tidak mau mempercayai bahwa kerusakan lingkungan dapat berakibat fatal, karena memang efek signifikan belum dapat kita rasakan secara langsung.

Dilema tentu saja akan terjadi di banyak pihak, karena ketidakmampuan manusia untuk mewujudkan suatu keseimbangan. Contohnya adalah membuka hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Di satu sisi, banyak aktivis pecinta lingkungan yang mengutuk hal tersebut. Sedangkan di sisi lain, pihak pemerintah dan pengusaha mendukung karena perkebunan tersebut dapat membuka lapangan kerja dan memutar roda perekonomian. Hal manakah yang harus dimenangkan? Seharusnya pemerintah mampu mengatur jumlah hutan lindung dan tidak sembarangan memberi izin ke perusahaan untuk membuka lahan. Perekonomian negara memang patut diutamakan, tetapi patut juga disadari bahwa perekonomian yang telah dirintis itu akan sia-sia jika bumi kita rusak dan tidak ada lagi masa depan untuk umat manusia. Itulah pilihan yang perlu diputuskan para pemimpin di dunia.


Bagaimana dengan kita yang hanya orang-orang biasa yang tidak memiliki wewenang? Ikut bergabung dengan organisasi seperti Greenpeace menurut saya merupakan salah satu jalan menuju tindakan nyata gerakan peduli lingkungan. Bersatunya kita semua dengan satu visi di Greenpeace, maka suara kita pun dapat terdengar. Dengan begitu, kita pun dapat mendukung gerakan Greenpeace yang salah satunya patut saya acungi jempol, adalah me-lobby pemerintah untuk menghentikan deforestasi.

Namun saya perhatikan di kampus, banyak orang yang sebenarnya peduli lingkungan namun takut untuk mendukung Greenpeace dengan alasan finansial, karena bagaimanapun juga mahasiswa seperti kami masih bergantung pada setoran bulanan orangtua.

Setahu saya, setelah menjadi anggota Greenpeace kita diwajibkan untuk membayar iuran per bulan via autodebet bank sebesar Rp.75.000. Banyak dari mahasiswa merasa keberatan dengan jumlah uang yang seharusnya bisa untuk makan selama beberapa hari tersebut. Atau ada juga yang enggan merogoh kantong dengan alasan takut uangnya disalahgunakan. Saya pun termasuk tipe golongan ini. Tetapi, pandangan saya berubah saat mendengar cerita seorang teman yang beberapa bulan yang lalu mulai menjadi anggota Greenpeace.

Pada bulan ke-2nya menjadi anggota, ia meminta berhenti karena alasan biaya. Namun setelah dinego, ia bisa hanya menyumbang, kalau tidak salah, Rp.75.000 saja per 6 bulan. Jadi per bulannya hanya sekitar 10ribuan rupiah. Saya rasa seharusnya untuk mahasiswa memang ada pengurangan iuran. Di dalam hati ingin membantu tapi apa daya uang tak sampai :(.

Sebaiknya untuk sasaran mahasiswa, Greenpeace lebih menekankan kepada rekruitasi aktivis, yang nantinya akan ikut merekrut anggota baru, kampanye, penelitian, dan lain sebagainya. Mungkin perlu juga memasang spanduk/poster di lingkungan kampus seperti “We’re looking for volunteers, not donors” agar para mahasiswa tidak horor lagi dengan adanya rekruitor Greenpeace di lingkungan kampus. Selain itu, dengan sumbangan tenaga, peranan nyata dalam melindungi lingkungan hidup akan lebih terasa :).